Masmient.com

Berita TerNew

Minggu, 19 Juni 2022 – 14:01 WIB

Ilustrasi – Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Jogja. Ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

jogja.Masmient.com, YOGYAKARTA – Masyarakat masih menganggap kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebagian sebuah aib.

Korban lebih memilih diam, alih-alih melaporkan praktik kekerasan tersebut ke pihak kepolisian. 

Dosen Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram (UWM) Laili Nur Anisah mengatakan masyarakat perlu menyadari bahwa membiarkan atau menutupi tindak kekerasan dalam rumah tangga tidak akan menyelesaikan masalah.

“Masyarakat perlu memiliki kesadaran terhadap pentingnya pencegahan dan penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga, terlebih perangkat desa yang menjadi rujukan dalam menyelesaian masalah untuk warganya,” kata Laili pada Selasa (14/6).

Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Provinsi DIY, angka kekerasan dalam rumah tangga mencapai 700 kasus setiap tahunnya.

“Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga masih banyak terjadi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi para korban tidak melaporkan ke aparat,” jelasnya. 

Laili mengatakan setidaknya empat bentuk kekerasan dalam rumah tangga mengacu pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, yaitu kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual dan penelantaran rumah tangga. 

“Dari data kekerasan rumah tangga di Yogyakarta, kasus terbanyak kekerasan penelantaran rumah tangga dan kekerasan fisik.” ungkapnya. 

Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY mencatat angka KDRT mencapai 700 kasus tiap tahunnya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google News

Source link