Masmient.com

Berita TerNew

Laporan Reporter Tribunnews.com, Reza Deni

Masmient.com, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerja sama dengan United Nations Office of Counter-Terrorism (UNOCT)/UN Counter-Terrorism Center (UNCCT) untuk mendiskusikan hubungan antara pekerja migran dan kondisi yang kondusif bagi ekstremisme berbasis kekerasan di kawasan, sebagaimana temuan dari UNOCT/UNCCT sendiri.

Deputi Bidang Kerjasama Internasional BNPT Andhika Chrisnayudhanto bicara soal tantangan yang dihadapi negara-negara kawasan.

“Terutama pasca dibukanya kembali pintu perbatasan antar negara untuk pekerja migran,” kata Andhika dalam sambutannya dalam Lokakarya di Regional Virtual Workshop: “Understanding the Conditions Conducive to the Radicalization of Migrant Workers Against the Risk of Violent Extremism”, Minggu (19/6/2022).

Dia menyebut pemerintah saat ini dalam upaya melindungi Pekerja Migran dari kerentanan ekstremisme berbasis kekerasan melalui pelibatan berbagai pemangku kepentingan.

“Ini sebagaimana diamanatkan oleh Bali PCRVE (Prevent and Counter the Rise of Radicalisation and Violent Extremism) Work Plan 2019-2025 di tingkat regional, dan RAN PE (Rencana Aksi Nasional Pencegahan Ekstremisme berbasis kekerasan) 2020-2024 di tingkat nasional,” kata Andhika.

Baca juga: Kepala BNPT: Ujaran Kebencian Jadi Pintu Masuk Intoleransi yang Mengarah pada Terorisme

Sementara itu Chief of Section, Pillar I & 4, UNOCT/UNCCT Ms. Lifton menggarisbawahi radikalisasi online dan penyalahgunaan internet untuk penyebaran konten ekstremisme berbasis kekerasan telah menambah kompleksitas tantangan yang dihadapi negara-negara di kawasan.

“Saya harap bahwa temuan penelitian UNOCT yang menyajikan penilaian berbasis data dapat menjadi referensi bagi kebijakan dan pendekatan dalam penanganan Pekerja Migran yang terkait dengan ekstremisme berbasis kekerasan,” ujar dia.

Pihaknya juga menegaskan komitmen dukungan terhadap negara-negara di kawasan untuk mencegah dan melawan ekstremisme berbasis kekerasan sekaligus untuk mengurangi keadaan yang kondusif bagi upaya penyebaran hal tersebut.

Sebagai tindak lanjut, temuan UNOCT dan rekomendasi yang dihasilkan dari lokakarya virtual ini nantinya akan dipresentasikan kepada para Pembuat Kebijakan negara-negara di kawasan ASEAN dalam sebuah konferensi langsung yang rencananya akan digelar di Indonesia dalam waktu dekat.

Baca juga: Antisipasi Ancaman Terorisme, BNPT Matangkan Persiapan Pengamanan KTT G20

Lebih lanjut, Andhika mengatakan lokakarya ini telah memperkuat kemitraan antara UNOCT/UNCCT dan BNPT terkait isu migrasi.

“Khususnya dalam hal perlindungan dan pencegahan Pekerja Migran di kawasan Asia Tenggara dari kerentanan ekstremisme berbasis kekerasan,” kata dia.

Lokakarya tersebut melibatkan kurang lebih 75 perwakilan NGO, akademisi, think-tank, dan Badan-badan PBB yang bergerak pada isu migrasi dan ekstremisme berbasis kekerasan di kawasan ASEAN ini.

Secara spesifik kegiatan ini membahas sifat radikalisasi pekerja migran di negara-negara anggota ASEAN, termasuk hubungan antara kondisi kerja dan kerentanan pekerja migran terhadap perekrutan oleh organisasi-organisasi ekstremis.

Lokakarya juga menggarisbawahi pentingnya pendekatan P/CVE (Preventing/Countering Violent Extremism) untuk mendukung ketahanan di antara pekerja migran, termasuk memperkuat peran perempuan.



Source link